Heni Riswanti

Biografi Aku adalah seorang guru Bahasa Indonesia, di sebuah sekolah negeri di Bogor, Jawa Barat. Mengapa guru Bahasa Indonesia? Berawal pengetah...

Selengkapnya

Biang Kerok

Biang Kerok

Lagi-lagi kamu bikin masalah denganku. Orang ga tahu diri, numpang di rumah orang seenak wudele dewe. Emang Iki omahmu opo?

" He, orang tahu diri apa. Di rumah siapa kamu?" Suara Surti menggelegar seperti suara petir mau turun hujan.

Yang digertak cuek bebek. Masuk rumah dengan santainya. Seperti tidak ada suara atau sengaja pura-pura tidak mendengar.

Melihat sikap Darto yang seperti itu, tambah panas hati Surti. Ditariknya baju Darto dengan kasar. Saking kerasnya, hampir saja Darto jatuh terjengkang.

" Sialan. Mau kamu apa sih, Ti? Aku ga ngerti."

" Makanya, kalau ada orang ngomong dengerin. Jangan ngloyor pergi begitu saja."

" Ya, sudah. Kamu mau ngomong apa?"

" Kamu itu tiap hari pergi seenaknya, pulang seenaknya. Kamu anggap apa orang-orang di rumah ini?"

" Aku harus gimana? Siang aku pergi, sudah ga ada orang. Pulang, Bude dan Pakde juga ga kelihatan. Kamu sendiri ga mesti sudah di rumah."

" Terus selama ini kamu pergi ke mana, ngapain?"

" Kok kepo. Emang apa urusan kamu?" Jawab Darto mulai tidak suka dengan pertanyaan Surti yang seperti menyelidik.

" Hai, kamu jangan nyolot ya. Kamu di rumah siapa? Di sini kamu numpang. Jadi jangan seenaknya sendiri begitu." Surti juga tidak suka mendengar jawaban Darto begitu.

Tidak ingin terjadi pertengkaran dan tidak ingin terus dikejar pertanyaan yang menyelidik, Darto cepat-cepat menyingkir.

" Hai, ...." Teriakan Surti tidak dilanjutkan karena Darto sudah lenyap masuk kamar.

Surti benar-benar dongkol. Dia tidak rela, bapak- ibunya tidak dihormati bocah baru lulus SMA itu. Bocah yang entah dari mana nongolnya. Memang sih, Darto sebenarnya masih adik sepupunya. Anak buliknya dari ibu.

Sebenarnya Surti tidak mau bicara dengan Darto, seperti yang selama ini dilakukan. Darto sudah tinggal di rumahnya selama dua bulan. Sementara, tidak jelas kedatangannya. Kedua orang tuanya tidak pernah menghubungi. Sebaliknya jika dihubungi juga tidak ada jawaban.

Selama di rumah Surti, kerjaan Darto juga cuma luntang-lantung. Setiap hari pergi saat orang rumah tidak ada dan pulang saat orang sudah terlelap tidur. Membantu pekerjaan rumah juga tidak pernah.

Kedua orang tua Surti tidak pernah memasalahkan kelakuan Darto selama tinggal di rumah mereka. Biar bagaimanapun masih keponakan sendiri. Mereka terpaksa membicarakan masalah yang terjadi sore tadi dengan Surti.

" Nak, kamu tahu ga, ke mana perginya Darto?" tanya Bapak.

" Tidak tahu, Pak. Memang ada apa?" Hati Surti ga enak. " Kok, kaya ada masalah." Bapak masih diam tidak menjawab.

" Sebenarnya ada apa, Pak?"

Surti mengulangi pertanyaannya sambil melirik ke arah ibunya yang juga hanya diam saja. Mungkin, bapak sudah sangat jengkel dengan kelakuan Darto hingga mereka tidak tahan dan membicarakannya.

" Ibumu kehilangan gelang dan kalung yang ibumu beli dengan menabung sedikit demi sedikit."

" Memang Darto yang ngambil, Pak?

" Bapak tidak tahu. Cuma dia yang di rumah. Bapak tidak menuduh dia tapi ini sudah yang ke tiga kalinya, ibumu kehilangan barang berharga."

" Ketiga? Kok Bapak ga pernah cerita? Terus apa saja yang hilang?"

" Pertama, uang satu juta. Kedua, laptop. Dan ketiga ini, gelang dan kalung.

" Wah, ini ga bisa dibiarkan begitu saja, Pak. Kita harus lapor polisi kalau begini."

" Jangan dulu, Nak. Ya, klo dia yang ambil. Kalau tidak?"

Surti juga jadi bingung. Kalau bukan Darto yang ngambil, berarti dia sudah seudzon.

Hari itu, Surti sengaja tidak masuk kerja. Dia ingin menginterogasi Darto setelah semalam, dia gagal berbicara. Tapi, sudah pukul sembilan, kunyuk itu belum juga bangun. Surti bermaksud membangunkannya tapi terdengar pintu diketuk orang.

" Tok, tok, tok."

" Ya, sebentar."

" Paak Polisi?"

" Apa betul, ini rumah Pak Sudar?

" Ya, betul"

" Ada yang namanya Darto?"

Deg. Hati Surti tiba-tiba ga enak. Bikin ulah apa tu bocah sampai dicari polisi.

" Bagaimana,mBak, ada yang namanya Darto?"

" Aaa ada, Pak"

" Bisa, Pak. Silakan duduk dulu. Saya akan membangunkan karena dia masih tidur."

" Ya." Jawab pak polisi sambil duduk di ruang tamu. Dan Surti menuju kamar Darto.

" Tok, tok, tok"

" Ya, ada apa?"

" Cepet bangun, ada yang nyari tu!"

" Sapa?"

" Udah, bangun aja. Cepet!"

Dengan masih malas-malasan dan mata setengah terperjam karena masih ngantuk, terpaksa Darto bangun. Dengan wajah kusut, dia ngeloyor ke ruang tamu tanpa cuci muka.

Begitu duduk di kursi ruang tamu, dia baru sadar. Secepat kilat, dia hendak kabur tapi gagal. Polisi dengan sigap mengepung Darto. Tanpa ampun lagi, Darto yang tidak berkutik langsung dicengkeram polisi dari kanan, belakang, dan depan.

" Mau lari ke mana kamu?"

" Ada apa, Pak? Apa yang dia lakukan sampai harus ditangkap?" tanya Surti.

" Dia tadi siang terlibat tawuran dengan anak SMA."

Surti semakin gondok, marah, dan benci. Keluarga Surti dibikin malu oleh Darto.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali