Heni Riswanti

Biografi Aku adalah seorang guru Bahasa Indonesia, di sebuah sekolah negeri di Bogor, Jawa Barat. Mengapa guru Bahasa Indonesia? Berawal pengetah...

Selengkapnya

Tantangan

Tantangan

Ing ngarso sung tulodho, pesan Ki Hajar Dewantoro. Berada di depan memberikan teladan.

Guru iku digugu lan ditiru. Guru itu dipercaya dan dicontoh.

Sebagai guru bukan saja harus bisa dicontoh perilaku dan perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari, namun sudah pasti, juga dalam pembelajaran. Kita tidak hanya bisa menyuruh, memberi tugas, dan menyalahkan tapi tidak bisa memperbaiki.

Inilah tantangan yang dihadapi guru Indonesia saat ini, terutama sekali dalam kegiatan menulis.

Pemerintah sudah berusaha memberikan peluang-peluang, banyak komunitas memberikan kesempatan untuk belajar menulis, tapi terkadang hanya banyak mimpi dan hanya mimpi. Betapa sulit untuk memulai.

Jujur, secara pribadi, aku malu. Kenapa dari dulu tidak mau memulai. Tapi tentu tidak bisa disesali, kondisi dulu tidak secanggih dan semudah kini.

Dulu, media informasi dan fasilitas belajar masih sangat terbatas. Untuk belajar membutuhkan ruang dan waktu. Sedangkan kondisi ekonomi guru juga sering menjadi alasan. Menulis untuk dijadikan lahan menambah ekonomi juga masih sulit diterobos. Apalagi bagi guru yang bertugas di daerah apalagi di pelosok.

Mungkin akan ada yang membantah, " Yah, itu mah tinggal kemauan." Yah, bisa jadi benar. Semua kembali pada kemauan. Tapi harus diingat, dulu ada tulisan juga akhirnya hanya menjadi diare usang. Tersimpan rapat di rak buku, akhirnya hilang entah ke mana.

Berbeda dengan sekarang. Banyak media yang bisa digunakan untuk menorehkan kata-kata, menuangkan keluh kesah. Hasilnya? Memang belum tentu untuk mendapatkan uang tapi setidaknya ada timbal baliknya karena biasanya ada yang merespon, entah hanya sekedar dilike atau dikomentari.

Ditambah lagi dengan ketidakmampuan dalam menyikapi teknologi canggih. Guru zaman old sudah gaptek. Kalah dengan guru zaman now. Banyak sekali ketinggalan dengan kecanggihan teknologi. Semakin merasa tersudut dan terbelakang. Kasihan deh, gue.

Belajar, tidak mengenal waktu, umur, dan tempat. Kita bisa belajar kapan saja, di mana saja, dan sampai kapan. Tinggal kemauan, ingin maju atau stag di tempat.

Ustadz kondang AA. Gym berpesan untuk melakukan kebaikan itu lakukan tiga hal, mulailah dari sekarang, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari yang kecil.

Inilah tantanganku yang sebentar lagi akan menggantungkan pena. Apa yang akan aku lakukan di hari-hari sepiku? Aku sudah coba memulai, tentu berharap langkah itu maju. Meski umur tinggal menunggu waktu tapi tidak ada halangan untuk tetap bisa menghasilkan sesuatu, yang pasti berguna setidaknya untuk diri sendiri.

Teman, ajari aku. Aku tidak malu belajar pada kalian yang masih muda tapi memang lebih maju. Di sisa tugasku, aku ingin tinggalkan kenangan indah pada murid-muridku, bahwa aku adalah guru yang layak digugu dan ditiru. Aku guru yang selalu berada di depan dan memberikan contoh kebaikan. Sebagai guru bukan hanya bisa menyuruh muridnya mengarang, tapi tidak pernah memberikan contoh mengarang.

Sekali lagi kawan, ajarkan aku bisa merentangkan kertas putih itu, dengan goresan-goresan bermakna sebagai warisan kepada anak cucu bangsa. Terima kasih.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali